Lentera (Sebuah Kehidupan Mahasiswa & Pelajar)

Banyak kaum pelajar ataupun mahasiswa saat ini yang terlalu mengedepankan keintelektualannya namun mengenyampingkan etika yang seharusnya paling menonjol dalam diri mahasiswa ataupun pelajar agar tidak menjadi buah bibir dimata masyarakat.

Mahasiswa ataupun pelajar adalah generasi penerus bangsa dan mampu membawa perubahan yang lebih baik lagi kedepannya. Tapi bagaimana mungkin hal itu dapat terwujud jika generasi bangsa yang merusak bangsanya sendiri dengan etika dan akhlak yang tidak terpuji.

Oleh karena itu,  kepada rekan-rekan mahasiswa ataupun pelajar marilah kita menunjukan dan mencerminkan etika yang baik sesuai tugas yang diemban oleh mahasiswa ataupun pelajar sebagai agent of chance yang membawa perubahan yang lebih baik lagi.


Silatnas IMMawati DPP IMM Lahirkan Manifesto IMMawati


ARQAM-MEDIA - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bidang IMMawati, Akan melaksanakan Agenda Silaturahim Nasional (SILATNAS) IMMawati, dengan mengusung tema, “Meneguhkan Peran Perempuan dalam Penguatan Nilai-Nilai Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan.” kegitan ini akan dilaksanakan, di Universitas Prof. Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta, pada, 11-13 Agustus 2017.

“Kita harapkan Silaturahim Nasional (SILATNAS), akan mengumpulkan IMMawati seluruh Indonesia di Jakarta”. Kata IMMawati Oom Komariah  Ketua DPP IMM Bidang IMMawati, saat ditemui oleh Media IMM.or.id di Kantor DPP IMM, Senin, (07/08).

Ia juga menuturkan, bahwa Silatnas IMMawati merupakan agenda yang diperuntukan, tidak hanya IMMawati yang aktif, akan tetapi, dia akan menghimpun IMMawati Lintas Generasi. Yang pernah menjadi Ketua Bidang IMMawati, atau perempuan yang pernah dikader oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Ujarnya.

Selain ajang silaturahim nasional, dalam kegiatan tersebut, ia mengatakan,  IMMawati Lintas Generasi, akan mengagendakan pembagian komisi-komisi yang akan membahas tentang materi silaturahim nasional, yaitu pertama, dia akan memantapkan Silabus IMMawati yang akan menjadi panduan khusus untuk pengkaderan IMMawati ke depan, kedua, pembahasan Korps IMMawati atau tatanan IMMawati kedepan, ketiga, agenda Silatnas akan membahas, isue-isue kebangsaan yang dialami IMMawati, atau secara keseluruhan perempuan itu sendiri, terutama perempuan Indonesia. Ujar Mantan Ketua Bidang IMMawati Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Banten ini.

Senada dengan itu, ia mengharapkan juga, Silaturahim Nasional (SILATNAS) IMMawati. Akan terjalin Ikatan atau Ukhwuah kader-kader IMMawati se-Indonesia, memberikan motifasi-motifasi kepada teman-teman, memperkuat ideologi Muhammadiyah kepada IMMawati, dan memperteguhkan gerakan.  “patut diakaui bahwa gerakan IMMawati, belum nampak dan tak terlihat”, Kata IMMawati, yang biasa disapa dengan IMMawati Oom ini.

Di acara Silatnas itu nanti, hari Minggu sebelum penutupan, akan ada aksi solidaritas perempuan untuk Palestina. Karena dia menilai bahwa kegiatan ini, akan menumbuhkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, oleh IMMawati dan Perempuan Indonesia.

Kegiatan Silaturahim Nasional (SILATNAS) IMMawati, akan dibuka resmi oleh Ketua Umum Aisyah, Ibu Nurjanah. Dan kegiatan Silaturahim Nasional (SILATNAS) akan dihadiri oleh DPD IMM Se-Indonesia yang diwakili masing-masing DPD sebanyak 2 orang, yakni Ketua Bidang IMMawati dan Sekertaris Bidang IMMawati, dan tidak sedikit dari daerah, akan mengirimkan beberapa kader pengembira, karena Silatnas merupakan kegiatan silaturahim nasional yang diperuntukan untuk semua kader. Ujarnya.

Sumber: www.imm.or.id

AMM Bersinergi Solusi atasi Krisis Kader

Joko Triyanto,S.Kom.,M.Pd.I.
Sudah selayaknya kita meneropong Muhammadiyah di masa yang akan datang. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah amar ma’ruf  nahi munkar dan gerakan tajdid tidak mungkin lepas dari upaya-upaya pewarisan kayakinan dan cita-cita hidupnya, pewarisan  kepribadiannya,  kepada generasi muda (AMM).

Generasi Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal dan perjuangan persyarikatan Muhammadiyah. Sejak awal kelahirannya usaha-usaha tersebut telah dilakukan sebagai bentuk sistem pengkaderan dengan kekayaan tradisi dan sibghoh persyarikatan Muhammadiyah. Sistem tersebut telah berjalan lebih dari satu abad, dengan berbagai dinamikanya, sebagai antisipasi atas perkembangan sejarah, ilmu, teknologi dan globalisasi. Untuk melangsungkan perjuangan persyarikatan Muhammadiyah membutuhkan Kader, bukan sekedar kader penerus saja namun yang di butuhkan adalah kader pelopor, penerus sekaligus penyempurna perjuangan Muhammadiyah.

Tidak bisa di pungkiri akhir – akhir ini pimpinan persyarikatan Muhammadiyah Semakin semangat, bahagia sekaligus gelisah, melihat Amal Usaha Muhammadiyah yang berkembang begitu pesat dari ranting, cabang, daerah, wilayah hingga luar negeri, disisi lain mengalami kriris Kader, memang banyak sekali yang berebut menjadi Kader Penerus, namun sangat sedikit Kader penerus sekaligus Pelopor dan penyempurna amal perjuangan Muhammadiyah. Kegelisahan tersebut melahirkan sistem pengkaderan yang kita kenal dengan istilah 4 Pilar Perkaderan Muhammadiyah. Empat pilar sebagai penopang perkaderan yang dimaksud diantaranya yaitu Perkaderan Organisasi Otonom (ortom), Perkaderan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Perkaderan Pimpinan dan Perkaderan Keluarga. Dalam tulisan ini saya hanya akan menyinggung  satu pilar perkaderan saja yaitu pilar perkaderan organisasi otonom (ortom).

Satu pilar perkaderan organisasi otonom yang meliputi Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah (PM), Nasyiyatul Aisyiyah (NA), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM), Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (GKHW). Muhammadiyah sebagai Bapak dan Aisyiyah sebagai Ibu dari Angkatan Muda Muhammadiyah (PM, NA, IMM, IPM, TSPM, GKHW) sudah sewajarnya memperhatikan dan membimbing perjalanan dan perkembangan organisasi otonom tersebut.

Angkatan Muda Muhammadiyah atau yang kita Kenal AMM tersebut telah terbukti sebagai satu-satunya pilar perkaderan yang mampu menjadi kader Penerus sekaligus pelopor dan penyempurna amal perjuangan persyarikatan Muhammadiyah tercinta. AMM yang mempunyai wewenang sebagai organisasi otonom mempunyai hak sendiri untuk mengatur dan mengelola perkaderan sesuai kebutuhannya masing-masing. Dan sistem tersebut sudah berjalan setengah abad lebih atau sesuai usia ortom.

AMM Sangat berjasa atas perkembangan Muhammadiyah dari ranting hingga Pusat. Banyak daerah yang tadinya belum ada Muhammadiyah setelah kehadiran AMM akhirnya berdiri PRM, PDM secara legal formal hampir merata di seluruh Bumi Nusantara, bahkan ada dua ortom yakni Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang telah mengepahkan sayap dakwah hinga ke mancanegara  dangan mendirikan banyak Cabang Istimewa TSPM dan IMM di luar negeri. Itu artinya AMM mampu menjadi kader andalan Muhammadiyah dari tingkat akar rumput, ranting, daerah, wilayah, pusat hingga kancah internasional.

Berbicara kader penerus persyarikatan saat ini hampir semua level pimpinan ranting hingga pusat Muhammadiyah adalah alumni AMM (PM, NA, IMM, IPM, TSPM, GKHW) beberapa contoh jajaran PPM  seperti Haedar Nasir, M.Si.(alumni IPM), Prof. Yunahar Ilyas (alumni IMM), Hajriyanto Y Tohari (alumni PM), Dahlan Rais,M.Hum (alumni IPM dan IMM), Noorjanah Djohantini,MM (alumni IPM) ; jajaran PWM  Jateng, Tafsir,M.Ag ( alumni IMM), Bysron Muhctar,M.Si (alumni IMM) ;  dan masih banyak contoh yang lain. Kader  Ummat banyak kader AMM setalah dididik di ortom memilih jalur kultural dan tidak di struktur Muhammadiyah, contoh Prof. Ahmad Mansur Surya Negara ( alumni IMM, penulis api-api sejarah). Kader bangsa dan Negara contoh Prof. Amin Rais mantan Ketua MPR RI (alumni IMM), Hajriyanto Y Thohari mantan  DPR RI (Alumni PM) dan masih banyak lagi contoh yang belum bisa penulis tulis secara lengkap.

Apabila mau menyadari, untuk merawat dan menjaga eksistensi Muhammadiyah di muka bumi ini betapa penting dan dahsyatnya kehadiran AMM tersebut dalam rangka menjadi kader penerus, pelopor, dan penyempurna perjuangan dakwah persyarikatan Muhammadiyah. Memang sampai saat ini Muhammadiyah belum mampu menjamah kesemua Kecamatan, Kelurahan/PCM dan PRM belum terbentuk hingga tinggat di bawahnya (GJDJ). Sehingga pada muktamar ke 46 Muhammadiyah berdirilah Lembaga pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Muhammadiyah yang di ketuai oleh Dr. Phil. Ahmad Norma Permata (Alumni TSPM dan IMM). Peran aktif AMM diatas tidaklah boleh membuat kita terlena,  pada kenyataannya masih banyak pimpinan yang mengatakan kekurangan kader.

Untuk menjawab persoalan krisis kader tersebut maka saya mengusulkan AMM untuk bersinergi, karna saat ini yang saya lihat proses dan sistem perkaderan di masing-masing ortom masih belum bersinergi alias jalan sendiri-sendiri, bahkan seolah-olah ada beberapa antar ortom saling bersaing menganggap dirinya paling hebat. Seharusnya Antar ortom saling bersinergi, karena masing masing ortom mempunyai tupoksi sendiri untuk bergerak semisal PM dikepemudaan, NA di Kepemudian, IMM di Kemahasiswaan, IPM di pelajar, TSPM di pencaksilat, GKHW di Kepanduan. Dan harus bersinergi dalam diaspora perkaderan yaitu saat pelajar di IPM setelah itu di IMM selanjutnya yang Putera lanjut di PM , yang puteri lanjut di NA begitupula yg mempunyai bakat di pencaksilat masuk TSPM dan yg senang kepanduan di GKHW, karena pada dasarnya semua adalah kader Muhammadiyah. Dan setelah semua perkaderan ortom selesai dan matang pada waktunya masuklah di Pimpinan Muhammadiyah baik secara struktural maupun kultural.

Sinergitas antar ortom AMM tersebut sudah pasti mampu menjawab kegelisahan Bapak Muhammadiyah dan Ibu Aisyiyah atas pernyataan “Muhammadiyah Krisis Kader?”. Namun, semua ortom AMM tidak akan berjalan dengan sesuai rencana apabila tanpa Bimbingan dan dorongan dari Bapak Muhammadiyah dan Ibu Aisyiyah, begitu sebaliknya. Karna bagaimanapun Muhammadiyah sangat membutuhkan Kader andalan, kader penerus, pelopor dan Penyempurna. Harapannya dengan bersinerginya AMM mampu mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak pernah kekurangan Kader dan Muhammadiyah ke depan dalam kondisi apapun akan tetap kokoh berdiri dan terus melebarkan sayap dakwah keseluruh bumi nusantara dan kancah internasional. Jayalah Muhammadiyahku. []

Sumber : www.imm.or.id

Seminar Inspiratif Bangkitkan Spirit Kader

ARQAM MEDIA - PC IMM Kota Palu menggelar Seminar Inspiratif dengan tema "Step by Step Go International" dengan menghadirkan pembicara nasional yang merupakan Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) yakni IMMawan M. Abdan Syakura. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Aula Fakultas Ekonomi Unismuh Palu pada hari jum'at 29/09/2017 pada pukul 09.30 Wita.

Kegiatan ini dibuka oleh IMMawan Kamarudin selaku Ketua Umum DPD IMM SULTENG usai memberikan sambutan. Dalam sambutannya beliau memberikan sedikit gambaran kepada peserta seminar terkait track record narasumber ditingkat DPP IMM. Adapun yang berindak sebagai moderator dalam kegiatan ini adalah IMMawan Arfan Bare selaku Kabid Media & Komuikasi PC IMM Kota Palu. Pesertas begitu antusias disaat moderator membacakan CV dan track record narasumber  ditingkat Internasional.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh pimpinan-pimpinan IMM baik itu dari Dewan Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang maupun Pimpinan Komisariat yang sempat menghadiri kegiatan tersebut, juga puluhan mahasiswa yang berasal dari IAIN dan UNISMUH Palu. Kegiatan ini diakhiri dengan foto bersama Pimpinan-Pimpinan dan beberapa kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Palu.
Foto bersama diakhir kegiatan
sumber: immpalu.blogspot.com

PC IMM Kota Palu Bakar Bendera Myanmar

ARQAM MEDIA - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiah Kota Palu menggelar aksi didepan Anjungan Nusantara, tepatnya di patung kuda pantai Talise Palu. Dalam aksi ini, mereka mengecam tindakan genosida yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya. Masa aksi juga membawa spanduk dan poster-poster berisi kecaman. Sebagai simbolisasi kecaman, mereka menginjak-injak, menyobek dan membakar bendera Myanmar.

Aksi ini digelar pada pukul 16.30 WITA, peserta aksi berkonvoi dari kampus UNISMUH menuju titik aksi. Aksi yang berlangsung kurang-lebih 45 menit ini berlangsung tertib, sebelum membubarkan diri peserta aksi sembat berfoto bersama para polisi yang bertugas mengamankan aksi tersebut.

 

Pernyataan Sikap DPP IMM Terhadap Genosida Etnis Rohingya di Myanmar

Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) mengeluarkan pernyataan sikap mengenai Etnis Rohingya, Myanmar, yang makin marak ditindas oleh bangsanya sendiri. Pengusiran dan pelanggaran HAM menjadi wujud ketidak adilan yang dirasakan etnis Rohingya yang beragama Islam sejak tahun 1982. 

Tidak diakui sebagai warga negara Myanmar menjadikan mereka sebagai manusia tanpa identitas. Akibatnya etnis Rohingya tidak memperoleh akses pendidikan, keamanan, dan hak-hak dasar lainnya.

Genosida yang terjadi di Myanmar menjadi pemandangan yang buruk di dunia internasional.Hal ini mengundang amarah seluruh kalangan dan golongan. Oleh karena itu, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menyatakan sikap sebagai berikut:
  1. Pemerintah Myanmar pantas dihukum  atas kebiadaban sistematis terhadap warga minoritas Rohingya jika hal ini tidak dapat dihentikan.
  2. Mendesak Negara-negara ASEAN mengeluarkan Myanmar dari keanggotaan ASEAN jika kekejaman atau penindasan terhadap etnis Rohingya ini terus terjadi.
  3. Indonesia sebagai negara mayoritas Islam terbesar dunia harus jadi pelopor sanksi internasional atas Myanmar.
  4. Nobel Perdamaian pemimpin Myanmar (Aung San Suu Kyi) harus dicabut oleh Komite Hadiah Nobel karena telah terjadi pelanggaran HAM berat terhadap etnis Rohingya.
  5. Mendesak pemerintah Bangladesh untuk membuka pintu perbatasan agar etnis Rohingya bisa menyelamatkan diri dari persekusi pemerintah Myanmar.
  6. Menginstruksikan ke seluruh Pimpinan IMM di Seluruh Indonesia dan di Luar Negeri untuk melakukan Aksi Kemanusiaan untuk melawan tindakan genosida di Myanmar.
Pernyataan ini ditandatangani oleh Ketua DPP IMM Bidang Hikmah, Muhammad Solihin S, SH., MH.

IMMawati Palu Kibarkan Bendera IMM Di Rinjani

IMMawati Dian Rahayu mengibarkan bendera IMM di Puncak gunung Rinjani
ARQAM MEDIA- Salah satu kader kota Palu, IMMawati Dian rahayu berhasil menggapai puncak gunung Rinjani 19/7 sekaligus mengibarkan bendera IMM, gunung Rinjani merupakan gunung  tertinggi di pulau Lombok Nusa Tenggara Barat dengan ketinggian 3.726 mdpl. “Perjalanan yang ditempuh dari kaki gunung Rinjani menuju kepuncak dan kembali lagi ke kaki gunung memakan waktu 3 hari lamanya ”tutur Dian.

Selama 3 hari perjalanan kepuncak Rinjani yang dimulai dari tanggal 16-19 dengan melalui jalur Sembalun saya melewati 2 pos dan yang paling mengesankan selama perjalanan yaitu dengan melihat danau Segara Anak yang katanya merupakan salah satu danau terindah yang ada didunia ujarnya.

“Melihat danau Segara Anak saya serasa termenung terpesona melihat keindahan yang Allah SWT SWT ciptakan dimuka bumi ini, dan tak lupa saya ucap rasa syukur kepada Allah SWT SWT atas seluruh ciptaan yang ada dimuka bumi ini” lanjut Dian. Dengan mata berkaca-kaca saat berbagi pengalaman bersama reporter Arqam Media.

Dian Rahayu yang juga merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palu Fakultas Ekonomi memang hobby berpetualang dan mendaki gunung, hampir semua gunung yang ada di SUL-TENG sudah ia daki, selain hobby mendaki Dian panggilan akrabnya juga ingin menunjukkan pada khalayak banyak bahwa jilbab bukan alasan untuk membatasi ruang gerak perempuan bahkan menurut Dian dengan melakukan aktivitas di alam bebas, dia bisa merasakan nikmat dan karunia yang begitu Indah yang Allah SWT telah berikan dan bersyukur atasnya. 

Tak ada batasan untuk wanita yang berjilbab untuk melakukan kegiatan menikmati alam bebas yang banyak digandrungi oleh para lelaki bahkan hobby saya ini semakin menambah rasa syukur saya atas nikmat yang Allah SWT ciptakan didunia “tutupnya".

PENULIS : IMMawan Syahrawan
EDITOR   : IMMawan Ihsan

Peduli Tolitoli, AMM Sulteng Tunaikan Tugas Sosialnya

ARQAM MEDIA - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC-IMM)  Kota Palu bersama Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW-IPM) Sulteng bekerjasama dalam proses penanggulangan bencana Banjir Bandang yang melanda daerah Tolitoli 3 juni 2017 silam.

Sebelum menyalurkan bantuan tim ini beberapa kali Tim ini mengadakan aksi penggalangan dana  dibeberapa titik traffic light yang ada di kota Palu. Tidak hanya itu saja tim ini juga menjempun langsung paket-paket sumbangan yang berupa air mineral,  pakaian layak pakai dan donasi lainnya dikediaman warga kota Palu dan warga Muhammadiyah yang berdomisili di kota Palu. Koordinasi dengan Pemerinta setempat, PWM Sulteng, Ortom dan beberapa OKP/LSM terkait jalur akses dan kondisi masyarakat pasca banji terus dibangun guna selancaran proses penyaluran bantuan tsb.

Kepada para Donatur yang telah membagikan sebagian hartanya kami sampaikan ucapan terima kasih mewakili korban banjir Tolitoli dan semoga Allah SWT meridhoi segela amal kebajikan yang kita kerjakan.


Aksi Gerakan Menutup Aurat

ARQAM MEDIA - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiah dan Badan Eksekitif Mahasiswa se-Universitas Muhammadiyah Palu menggelar aksi Gerakan Menutup Aurat di depan Anjungan Nusantara, tepatnya di patung kuda Pantai Talise Palu. 

Dalam aksi ini, mereka mengkampanyekan penolakan terhadap perayaan hari valentine kepada masyarakat muslim dan muslimah Kota Palu. Tidak hanya itu, seruan untuk menutup aurat di suarakan melalui orasi, yel-yel dan atribut lainnya.

"Semoga dengan adanya kegiatan gerakan menutup aurat, sedikit mengurangi jumlah teman-teman muslim dan muslimah yang melakukan perayaan terhadap valentine." kata IMMawati Normayanti selaku Korlap kepada Arqam Media selasa, (14/02/2017).

Aksi ini digelar pada pukul 16.30 WITA, peserta aksi berkonvoi dari kampus UNISMUH menuju titik aksi. Walaupun sempat diguyur hujan, tetapi antusias peserta aksi tidak berkurang sedikitpun. Aksi yang berlangsung kurang-lebih 45 menit ini berlangsung tertib, sebelum membubarkan diri peserta aksi sembat berfoto bersama para polisi yang bertugas mengamankan aksi tersebut.


Kader Muhammadiyah, Ber-IMM Secara Kaffah

ARQAM MEDIA - IMM atau Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi otonom di lingkup persyarikatan Muhammadiyah. Dimana organisasi itu tumbuh dan berkembang, maka kultur yang dibawa pun sangat beragam sekali. Apabila adik dari IMM sendiri dalam persyarikatan yaitu IPM memiliki kultur administratif dan pergerakan di sekolah – sekolah, maka IMM lebih memilih untuk terjun ke sosial masyarakat. Ini adalah titik poin perbedaan antara IPM dan IMM walaupun mereka secara berturut – turut merupakan jenjang perkaderan yang ada di Muhammadiyah.

Mungkin banyak dari kader IPM yang ketika pertama kali menjejakkan kaki di IMM memiliki tanda tanya besar seperti halnya saya, bagaimana IMM tidak bisa secemerlang IPM di mata menteri pemuda dan olahraga Indonesia lewat ajang penganugerahan OKP (organisasi kepemudaan terbaik). Karena memang tema besar atau ranah gerak yang digalang oleh IMM murni untuk sosial kemasyarakatan. Sehingga tidak jarang administrasi IMM tidak sebagus IPM. Padahal perlakuan administratif sendiri merupakan salah satu poin dalam penilaian OKP terbaik. Sehingga biarlah IPM selaku adik di persyarikatan bersinar lewat penghargaan administratifnya sedangkan IMM cemerlang di hati masyarakat lewat aksi sosialnya.

Setiap kampus pastilah memiliki cerita yang berbeda mengenai eksistensi dari organisasi ini. Apabila kita menengok ke PTM (perguruan tinggi Muhammadiyah) – PTM yang tersebar di Indonesia, maka tak jarang IMM telah diakui legalitasnya sekaligus menjadi organisasi internal kampus setara dengan BEM atau badan eksekutif mahasiswa. Lain halnya apabila kita melihat kondisi di kampus – kampus negeri. IMM masuk ke dalam kategori organisasi ekstra kampus (ormec) bersanding dengan HMI, HTI, KMNU, hingga KAMMI. Selain basis massa yang relatif lebih sedikit, juga sumber dana yang harus digalang secara swasembadaya.

Namun bukan sebuah jaminan apabila basis massa yang besar mampu mempengaruhi kebesaran dari organisasi tersebut. Percuma saja memiliki massa besar namun peneguhan ideologi organisasi tidak tertanam secara massif di setiap kader. Lebih baik kuantitas sedikit namun kualitas—dalam hal ini idealisme gerakan—sangat ditekankan. Begitu pula dengan ber-IMM, diperlukan jenjang kepemilikan dan keikutsertaan secara kaffah atau menyeluruh.

Untuk ber-IMM secara kaffah kita harus melalui beberapa tahapan secara berurutan. Jenjang pertama pemahaman mengenai keislaman. Yang paling mendasar adalah kita harus bisa mendefinisikan tuhan serta kaidah ketuhanan dengan singkat, padat, dan menyeluruh tanpa berbelit – belit hingga membuat orang bingung. Jenjang selanjutnya adalah pemahaman ber-Muhammadiyah. Memamahi arah gerak dan tujuan besar yang dimiliki oleh Muhammadiyah hingga menanamkan di dalam hati nurani bahwa Muhammadiyah bukanlah sebuah alat untuk mencari penghidupan apalagi jabatan, sesuai dengan yang diutarakan oleh founding father Muhammadiyah, kyai haji Ahmad Dahlan. Hidup – hidupilah Muhammadiyah jangan mencari hidup di Muhammadiyah.

Setelah dua jenjang tersebut berhasil dilampaui, maka kini giliran jenjang ketiga siap untuk ditapaki. Yaitu menghayati dan menyelami makna baik yang tersurat maupun tersirat yang terkandung dalam trilogi IMM sekaligus ruh dari pergerakan IMM sendiri. Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas. 3 hal inilah yang nantinya akan meneguhkan idealisme setiap kader yang berkecimpung di lingkup IMM untuk tidak mudah terbawa arus sekaligus memperdalam skill berpikir kritis dalam berorganisasi maupun bermasyarakat.

Saya kira trilogi inilah yang menurut pandangan saya secara subjektif berbeda dengan organisasi – organisasi lainnya. Selain karena maknanya yang cukup dalam, 3 hal tersebut juga hampir mirip atau menyerupai tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Dan apabila kita melakukan telaah secara mendalam maka antara trilogi IMM dan tri dharma perguruan tinggi berkesinambungan. Intelektualitas sangat erat kaitannya dengan pendidikan, begitu pula dengan pengabdian tak terlepas dari yang namanya Humanitas. Lantas bagaimana dengan Religiusitas apakah sama dengan Penelitian.

Menurut jawaban objektif saya, iya. Karena penelitian seolah – olah menjadi sebuah “ibadah” wajib yang harus dilakukan minimal sekali oleh setiap mahasiswa yaitu saat penelitian skripsi. Seorang yang beragama akan ditanya religiusitasnya apabila ia tidak melakukan ibadah, begitu pula dengan seorang mahasiswa akan ditanya “religiusitas” keilmuannya apabila ia tidak melakukan penelitian. Namun sayang, di tengah dalamnya makna tri dharma perguruan tinggi seolah – olah hanya digunakan sebagai pemanis dalam penjelasan ketika masa ospek.

Karena realita yang ada di lapangan sangat kontras bertolak belakang. Mahasiswa yang mana di masa orde baru dan masa reformasi benar – benar menjadi agen perubahan. Mereka di elu – elukan oleh masyarakat kecil kala itu karena memperjuangkan hak yang telah lama terenggut oleh rezim otoriter. Bahkan salah satu mahasiswa yang meninggal di masa pergerakan kala itu, Arif Rahman Hakim pun namanya diabadikan sebagai nama jalan di beberapa daerah di Indonesia. Namun, kini prediket mahasiswa gaungnya mulai meredup di kalangan masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi gurun – gurun kesiangan, tetapi sudah menjadi gurun – gurun kematian.

Cap apatis seolah – olah sudah terbiasa disematkan kepada mahasiswa. Mereka mengaku sosialis hanya dan hanya jika ada even – even besar. Selebihnya hanya dia dan tuhan yang tahu. Sungguh sebuah anomali yang sangat membingungkan. Sehingga dengan adanya pandangan dasar yang terkonsep dalam trilogi IMM membuat organisasi ini sedikit banyak akan menyadarkan peran sebenarnya seorang mahasiswa sebagai harapan masyarakat dan sadar bahwa dirinya ada sebagai agent of change.

Namun tidak seharusnya juga kita bertindak sosialis humanis secara totalitas dengan melupakan kewajiban sebagai seorang mahasiswa untuk menuntut ilmu. Karena apatis yang sesungguhnya tersemat pada mereka yang tidak memperhatikan kehidupan perkuliahannya, kepada mereka yang tidak bisa membagi waktu antara belajar dan organisasi, itulah yang dinamakan sebagai apatis kepada diri sendiri. Mengutamakan kepentingan orang lain namun tidak bertanggung jawab atas kepentingan pribadi.

Oleh. Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok   
         Jamaah dan aktivis Muhammadiyah, Mahasiswa S1 Fisika Universitas Airlangga